Dakwah Safari Ramadhan, Perjalanan Dakwah di Tanah Karo

safari dakwah di tanah karo

Pada bulan Ramadhan yang lampau, perjalanan dakwah ini dilaksanakan. Oh iya sebelum kita cerita panjang lebar aku akan memperkenalkan diri dulu. Namaku Yanti dulu sebelum masuk perkuliahan di kampus UIN Sumatera Utara, aku pernah belajar di pesantren Ar-raudhatul Hasanah setahun ketika itu masa pengabdian setelah menjadi alumni pesantren.

Pengabdian Setelah Menjadi Alumni Pesantren

Pada ramadhan tahun ini kami mengadakan sebuah perjalanan dakwah di tanah tanah karo tempat-tempat terpencil dimana desa yang kami tuju adalah desa yang minim dengan pengetahuan agama. Kami berjumlah sekitaran 31 orang yang akan di bagi ke beberapa titik tempat di tanah karo.

Pada saat pembagian aku di tempatkan tepatnya di desa Lau Buluh Kecamatan Kuta Buluh tanah karo. Tim ku berjumlah 5 orang, dua orang dari mahasantri dan 3 dari mahasantriwati salah satunya adalah saya sendiri.

Sebelum terjun ke lokasi tempat tujuan kami mengadakan upacara pelepasan bersama beberapa dosen dan ustad-ustad pesantren. Setelah upacara selesai kami ke bus.

Perjalanan Dakwah di Masyarakat di Mulai

Perjalananpun dimulai, kami berangkat menaiki 2 bus pesantren bersama-sama yang akan diturunkan di lokasinya masing-masing. Karena tempat kami lokasi terjauh jadi kami lah yg terakhir diantar setelah yg lainnya. Sampai lokasi kami disambut hangat oleh tuan rumah, tepatnya keluarga yang telah dikonfirmasikan bahwa sanya kami akan mengadakan perkunjungan.

Kami di suguhkan makanan oleh tuan rumah karena saat kamu sampai itu sudah malam dan memang belum makan malam. Setelah makan selesai aku dan tempat ku langsung ke dapur untuk mencuci piring.

Mengenal Kebiasaan Masyarakat Lau Buluh Kecamatan Kuta Buluh tanah karo

Dakwah Safari Ramadhan, Perjalanan Dakwah di Tanah Tanah Karo
Dakwah Safari Ramadhan, Perjalanan Dakwah di Tanah Tanah Karo

Setelah selesai semuanya, dan waktunya bersantai satu hal daru khas karo yang tidak tertinggal tuan rumah mengambil daun sirih dan kapur sambil berbicara sambil mengunyah dan menawarkan sirih itu kepada kami. Aku tidak mencoba nya, hanya satu dari temen kami yang mencoba yang membuat suasana semakin akrab.

Setelah selesai akhirnya kami tidur menghilangkan lelah setelah perjalanan seharian agar esok pagi pula lebih semangat beraktivitas. Malam itu aku belum bisa tidur cepat rasa bahagia bisa berkunjung melaksanakan perjalanan seperti ini rasanya sangat membahagiakan.

Di jam 4 aku terbangun, dan membangunkam teman ku memberitahu sebentar lagi akan sahur. Tuan rumah telah menyiapkannya dahulu dan kamu membantu mengangkat makanan untuk makan sahur bersama. Setelah sahur selesai kami pun tidak tidur lagi bercakap santai sambil menunggu azan subuh.

Sebelum azan subuh berkumandang kami bersiap siap untuk ke mesjid. Mesjid inilah tempat kami melaksakan tugas kami nantinya. Kami pun berangkat ke mesjid dan di luar dugaan mesjid itu berada di puncak desa dengan 97 anak tangga (yang kalau aku tidak salah menghitungnya).

Masjid Jabal Nur, 97 Anak Tangga Berdiri Kokoh di Puncak Desa

Belajar Mengaji
Belajar Mengaji

Mesjid Jabal Nur, begitulah aku membaca nama mesjid itu tertera. Dalam bahasa Arab jabal=gunung Nur=cahaya, begjtulah demikian arti dari nama mesjid ini. Yang aku pahami mesjid ini memang sesuai dengan namanya karena berada di puncak tinggi dengan tangga-tangga yg sangat banyak sebelum mencapai mesjid.

Setelah sholat subuh selesai kami tadarusan sebentar, pagi yang cerah akhirnya kamipun mulai bergegas bersiap untuk pindah ke mesjid. Ada satu rumah yang bersambung dengan mesjid disitulah kami tinggal untuk 5 hari kedepan.

Kegiatan pun dilangsungkan, kami mengajar mengaji, dakwah jumat, memperbaiki tata cara sholat, mengajarkan berwudhu yang baik, memperbanyak doa-doa yang biasa dipergunakan, buka puasa bersama, tahazud bersama, serta mengajar dan memperbaiki bacaan ibu ibu yang mengaji ketika tadarusan dan masih banyak lainnya. Sangat seru.

Sehabis sholat subuh waktu itu kami tadarusan bersama ibu-ibu di kampung. Ada percakapan yang sangat berkesan pagi itu.

Si ibu bilang “kami sangat senang ada yang datang macam kalian ini, soalnya disini jarang sekali ada kegiatan kayak gini. Azan aja belum tentu ada. Ibu aja merasa kalau agama ibu belum sempurna, soalnya ibu belum bisa baca Al-quran. Bahkan sebagian orang Islam dikampung ini terlalu awam, babi masih ada yang makan”.

Sontak aku kaget dengan rasa prihatin.Begitulah 3 hari berlangsung, di hari keempat kami membersihkan mesjid bersama anak anak kampung dan juga menanam bunga di sekeliling mesjid. Setelah itu kami foto bersama.

Di hari kelima, hari terakhir kami melaksanakan kegiatan. Kami berangkat menuju desa kuta buluh. Yang sangat serunya kami berangkat dengan menaiki mobil pickup. Sangat seru. Kami mengadakan acara kumpul akbar sekecamatan kuta buluh, titik titik tempat kegiatan dikumpulkan di satu tempat desa pertengahan dari semua desa tempat dakwah untuk acara menonton bersama. Film yang memotivasi yang ditayangkan saat itu. Dan juga memberikan hadiah bagi adik-adik yang banyak hafalannya. Acara pun selesai di siang hari. Dan itu menjadi acara kegiatan penutup.

Pengabdian Yang Tak Terlupakan di Tanah Karo

Siang harinya, aku dan teman teman semuanya pergi ke sesuatu tempat yang kata orang orang kampung tersebut ada sebuah gua deket perkampungan. Kami pun menuju kesana dengan jalan kaki, melewati jalan jalan yang penuh dengan tamanam sayur, jagung yang sudah mantap untuk di panen, bawang bawang dan lainnya.

Tepat ketika melewati jalanan itu terlihat pemandangan yang sangat menakjubkan. Keindahan sederhana yang sangat mengagumkan. Yaitu terlihat dari kejauhan mesjid tempat kami melaksakan tugas. Seperti namanya Jabal Nur, mesjid yang berdiri sendiri di atas bukit di bawahnya perkampungan warga.

Kalau pemandangan dari mesjid itu sendiri terlihat pemandangan hijau yang sangat membentang, gunung sinabung juga terlihat, lebih indah lagi ketika malam hari gemerlap lampu lampu dari perkampungan warga sangat menkajubkan.

Bahagianya Menjadi Berguna Bagi Orang Lain

safari dakwah di tanah karo
safari dakwah di tanah karo

Begitulah cerita perjalanan dakwah, sangat berkesan. Bahkan kata tidak bisa mengutarakan rasa bagaimana. Dari perjalanan ini sangat banyak pelajaran yang dapat aku ambil, dari banyaknya perbedaan namun tak menjadikan pertikaian, mengenal berbagai karakter dan ciri khas suatu kaum, dari belajar rasa ikhlas, memberi tanpa berharap balasan.

Hari terakhir perpisahan, dimana saling bersalaman dengan anak anak mereka pun menangis,rasa nya aku juga ingin menangis,walau singkat pertemuan namun rasanya sulit untuk perpisahan. Kami memberikan sedikit kenang kenangan untuk adik-adik seperti jilbab serta pesan pesan bahwa belajar agama sangat penting bagi kehidupan.
Sekian cerita perjalanan saya.

Yang paling mengesankan dari perjalanan ini adalah, bahagianya menjadi orang yang berguna untuk orang lain. Saling memberi ilmu. Apalagi dalam urusam agama Allah.

Sekian cerita saya tentang Dakwah Safari Ramadhan, Perjalanan Dakwah di Tanah Tanah Karo, semoga bermanfaat, salam mozafir, story by S. Yanti H.

Written by 

Assalamualaikum...Anda memiliki info wisata daerah, cafe, restoran, hotel, penginapan, dll yang ingin di kenalkan pada dunia, boleh share kepada kami untuk di publikasikan. Mozafir managed by travel blogger (halal traveller).

Leave a Reply

Your email address will not be published.