Ekowisata Tangkahan, Jalan-jalan Berwisata Sambil Belajar

Hai… Assalamualaikum good people – Tentu kamu setuju ibarat ponsel perlu dicharge, maka jiwa dan raga yang lelah dengan banyak tugas dari dosen kamu perlu dimanja dan disegarkan. Nah,  sekarang ada aktivitas kekinian dan traveling atau nge-trip, kamu bisa ajak sobat atau keluarga kamu.

bermain air di Tangkahan Langkat

Ada tagline nya nih “Ayo Piknik Biar Ga Panik” makin memberi semangat untuk berlibur. Di Sumut ada destinasi Ekowisata Tangkahan. Ekowisata Tangkahan sendiri sudah begitu terkenal. Tidak hanya di Sumatera Utara, melainkan hingga mancanegara. Banyak para wisatawan luar negeri berlibur di Tangkahan ini.

Tangkahan atau The Hidden Paradise in Sumatera berada di Desa Namu Sialang, Batang Serangan, Kabupaten Langkat, Provinsi Sumatera Utara. Tempat wisata itu berada di tengah hutan tropis. Tangkahan juga berbatasan langsung dengan Taman Nasional Gunung Leuser. 

Akses jalan menuju Ekowisata Tangkahan hanya bisa ditempuh melalui jalan darat. Sementara pilihan moda transportasi yang dapat  digunakan untuk mencapai lokasi ekowisata Tangkahan adalah dengan menggunakan motor, mobil, ataupun bus.

Awalnya saya diajak kakak sepupu saya pergi rencana liburan tahun baruan, dan saya mau ikut dong bersama dia. Tepat di hari kamis pagi tanggal 3 januari 2019, setelah selesai sholat subuh saya bergegas menyiapkan kebutuhan yang akan dibawa pergi, saya dan kakak sepupu pergi tempat satu titik untuk bertemu teman-teman yang lainnya di Pinang Baris, cukup lama menunggu disana teman kakak sepupu belum pada kumpul, akhirnya kami gerak untuk melanjutkan perjalanan dengan 10 orang lima motor. 

Lokasi Ecotourism Tangkahan dari Kota medan

Dari Kota Medan, yang hanya berjarak sekitar 50-60 km, yang menghabiskan sekitar 1 jam. Tapi karena lalu lintas di Medan agak macet, jadi waktunya agak molor ke 3 jam. Motor yang kami kendarai langsung menuju Binjai- Stabat.

Setelah melewati kota Stabat, menuju ke arah Tanjung Pura dan Aceh, nantinya akan ketemu simpang 3 Hinai. Silahkan belok ke kiri untuk menuju tangkahan. Ada pamfletnya kok, meski sudah buram. Tapi maaf  tidak sempat saya foto, dari simpang 3 Hinai sekitar 50 Km lagi untuk tiba di Ekowisata Tangkahan. Jalannya campur-campur. 

Mulai dari aspal berlubang di tengah dan kanan kiri. Lalu aspal mulus, terus terakhir jalan perkebunan, yang belum diaspal yang berbatu kerikil permukaan yang tidak rata, harus ektra hati-hati mengendarai motor disana, karena takutnya jika ban bocor, disana tidak ada tempel ban. 

Disana akan banyak menemui persimpangan. Nah, kalau tidak menemukan petunjuk ke arah tangkahan, jangan sungkan untuk tanya penduduk setempat ya. Kalau di kalkulasi, perjalanan Medan-Tangkahan berkisar 3-4 Jam.

Tiket Masuk Objek Wisata Ekowisata Tangkahan
Sesampainya di gerbang masuk Tangkahan, kita wajib membayar retribusi yaitu Rp 3000,-/orang dan parkir 5000,-/motor dan 10.000,-/mobil. Murah kan? Setelah itu kita bebas bermain dan nyantai di pinggir sungai yang jernih dengan pepohonan hijau Hutan hujan tropis. 

Pada saat kami kesini, cuaca pada saat itu sedang musim hujan, otomatis sungainya terlihat keruh dan tidak jernih. Nah, buat yang ingin merasakan jernihnya sungai di Tangkahan, usahakan datang di musim cerah ya. 

Kami sampai disana pukul 14:20 Wib dengan perut lapar kami harus mengisi perut kami sesudah mengisi minyak di pom bensin.

Destinasi awal, kami rombongan langsung menuju Penangkaran Gajah Conservation Respons Unit (CRU). Kami bisa lihat gajah sekitar pukul 10.00 wib dan 16.00 wib. Saat itu, saya beruntung bisa photo dan memegang gajah. 

Kalau mau menunggangi gajah, akan dikenakan biaya Rp 35 ribu untuk wisatawan nusantara. Sedangkan memandikan gajah harus membayar Rp 250 ribu untuk wisatawan asing dan Rp 100 ribu untuk wisatawan nusantara.

Penginapan di Sekitar Ekowisata Tangkahan

Karena waktu yang tidak memungkinkan kami pulang hari, maka Tangkahan Inn menjadi pilihan kami untuk menginap saat itu. Lokasinya luas, bersih dan aman. Harganya Rp 150.000,-/kamar untuk 2-3 orang. Dan kami ambil 3 kamar untuk 10 orang saat itu. 

Naik Gajah di Tangkahan

Pada saat  kegiatan Elephant Washing Bathing, yaitu jadwalnya pukul 08.30 – 09.30 Wib dan 15.30 – 16. 30 Wib setiap hari kecuali jum’at tidak ada kegiatan memandikan gajah kami tidak ikut memandikan gajah karena kesorean, jadi kami menunggu gajah selesai mandi. 

gajah di tangkahan

Gajah di Tangkahan ada 7 gajah dewasa dan 3 gajah masih anak-anak. Setelah itu para gajah selesai mandi saya menunggangi gajah bersama kakak sepupu.
Senang sekali saya bisa menunggangi gajah. Kata pengiring gajah bernama pak Warto(34) “Gajah ini namanya Pretty umurnya 42 tahun, beratnya 800 kg dan makannya sabut kelapa dan buah-buahan”, jelasnya. 

Cara mengarahkan jalan gajah bukan hal yang gampang. Butuh waktu untuk menjinakkan gajah, pengiring gajah jika ingin berbelok arah kanan maka kaki pengiring gajah harus berada di belakang kuping kiri gajah dan menekannya tapi tidak terlalu kuat, begitu juga sebaliknya. 

naik gajah di tangkahan

Lalu gajah akan menurut berbelok kanan. Setelah mutar-mutar bersama gajah akhirnya saya turun dan tidak lupa untuk berselfie bersama gajah yang saya naiki.

Setelah puas, kami melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menuju air terjun Tangkahan dan air panasnya. Kami menyusuri aliran air dari pegunungan tersebut. 

Mandi di Air Terjun Tangkahan

Semakin jalan dan berenang melawan arus aliran air sungai, semakin indah sekali. Saya menyibukkan diri dengan mengabadikan momen berharga tersebut. 

bermain air di Tangkahan Langkat

How beautiful it is! Menakjubkan sekali. Pemandangan yang sangat luar biasa. Rasa sedih yang tertahan, terobati dengan keindahan Tangkahan. Suasananya juga sangat sepi karena tidak ada satu pun wisatawan yang kesana saat itu. 

Kami pun bertahan disana hingga berjam-jam lamanya. Puas bermain air di Tangkahan Langkat, kami kembali ke penginapan untuk beristirahat dan makan malam bersama, sajian disini halal, tetapi ada juga makanan yang haram untuk wisatawan asing berkunjung seperti minuman yang memabukkan. 

Menyatu dengan Alam di Tangkahan

Pada malam hari, daya listrik hanya dibatasi sampai jam 10.00 watt saja, setelahnya hanya menggunakan lampu petromaks. Sungguh suasana yang sempurna untuk kembali menyatu dengan alam.

Kesokan paginya kami sholat shubuh, masjid jaraknya cukup jauh dari penginapan kami, jadi kami memutuskan untuk sholat berjamaah di penginapan saja. 

Penginapan kami tidak berlebel syariah, tetapi wisatawan muslim cukup nyenyak dan nyaman untuk dijadikan tempat bersandar, fasilitas juga lengkap ada kamar mandi yang bersih, ada aula yang lebar, tetapi tidak ada jaringan disana, ya hanya pengguna Telkomsel yang bisa terhubung internet.

Sebelum pulang kami harus melewati jembatan yang bergoyang terbuat dari papan kayu dan kami membayar Rp3000,-/orang untuk sekali melintasi jembatan ini. 

Dan harus bergantian karena max 10 orang yang melintasi jembatan ini. Perasaan yang deg-degan melintasinya karena bergoyang takut jatuh kecebur sungai. Melihat view dari tengah jembatan begitu indah pemandangannya.

Diujung jembatan ada warga yang meminta uang setelah melewati jembatan, cukup ramah wargayang menyapa kami disana, banyak juga kerajinan anyaman khas daerah sana untuk oleh-oleh kami pulang ke Medan. 

Sebuah saran…

Saran saya untuk infrastruktur menuju Tangkahan sangat hancur. Jalanannya sangat jelek, banyak batu, dan kalau hujan akan banjir atau becek serta tidak ada ojek. Pasti akan melewati jalan sepanjang 12 kilometer. 

Jalan yang kami pilih, tidak ada perumahan warga karena itu memang jalan kebun sawit. Namun hal yang sama juga ada di jalanan perumahan warga, sama-sama hancur dan jelek. Perut saya sangat sakit ketika melewati jalanan menuju Tangkahan. 

Saya yakin kalau orang hamil melewati jalan itu, akan melahirkan atau mungkin mengalami keguguran.

Saya tidak habis pikir dengan pemerintah Kabupaten Langkat atau Provinsi Sumatera Utara. Kenapa infrastruktur menuju kawasan wisata, tidak diperbaiki. Padahal potensi Pendapatan Asli Daerah PAD-nya sangat besar. 

Terlebih tempat wisata itu sudah dikenal di Dunia dan wisatawan asing banyak mengunjunginya. Atau mungkin itu kesengajaan dari pemerintah Kabupaten Langkat atau Provinsi Sumatera Utara. Tangkahan disebut The Hidden Paradise in Sumatera. Jadi agar tidak banyak yang tau, infrastruktur dibiarkan rusak.

Untuk pemerintah pusat, pariwisata merupakan sektor ekonomi yang paling penting di Indonesia. Kontribusinya pada Produk Domestik Bruto memicu lebih banyak pendapatan devisa negara. Tahun ini berkontribusi empat persen dari total perekonomian, dan akan ditingkatkan dua kali lipat pada tahun depan. Namun kalau infrastruktur tidak dibenahi, rasanya mustahil perekonomiannya akan meningkat.

Menurut saya, tempat ini belum layak dijadikan destinasi wisata halal, karena kurangnya tempat beribadah dan masih banyak yang perlu dibenahi oleh pemerintah daerah.

Hikmah yang dapat saya ambil dari Ekowisata Tangkahan ini saya banyak belajar merawat gajah, memandikan gajah, memberi makan gajah serta harus selalu membuang sampah pada tempatnya, maka itu kita harus melestarikan alam kita agar tetap terjaga dan gajah Sumatra pun tidak cepat punah. 

The Hidden Paradise in Sumatera, Jalan – Jalan – jalan Sambil Belajar di Ecotourism Tangkahan”
Salam mozafir….. shared by Ara

Written by 

Assalamualaikum...Anda memiliki info wisata daerah, cafe, restoran, hotel, penginapan, dll yang ingin di kenalkan pada dunia, boleh share kepada kami untuk di publikasikan. Mozafir managed by travel blogger (halal traveller).

Leave a Reply

Your email address will not be published.