Pengalaman Mendaki Gunung Sibuatan Via Pancur Batu

Hello pendaki / pecinta alam Medan, cerita ini tentang mendaki Sibuatan atau Sibuaten yang biasanya  di explore via jalur desa Pancur Batu dan jalur Nagalingga. Pada info pendakian kali ini melalui jalur Pancur Batu, akses lokasi dan harga atau biaya yang kami keluarkan akan di uraikan secara rinci, semoga menginspirasi untuk kamu ya…

Mendaki Gunung Sibuatan

Lokasi Gunung Sibuatan

Papan selamat datang di Gunung Sibuatan menyambut pendaki

Gunung Sibuatan adalah gunug tertinggi di Provinsi Sumatera, letakya di Kabupaten Karo dengan Kabupaten Dairi. 

Gunung ini berada dekat dengan Danau Toba dengan ketinggian 2.457 Mdpl atau lebih tinggi dari Gunung Sibayak yang tingginya hanya 2.212 Mdpl yang berada juga di Kabupaten Karo yang katanya gunung berapi aktif.

Cerita Pengalaman Mendaki Gunung Sibuatan dari Kota Medan

Untuk mencapai kepuncak gunung, normalnya pendaki membutuhkan waktu sekitar 8 sampai 10 jam pendakian yang dihitung dari awal perjalanan dari kaki gunung. Gunung ini juga terbilang masih asri dengan dipenuhi pohon-pohon serta tumbuhan yang menyelimuti kawasan guung tersebut.

Suhu yang lembab dan jalanan yang licin membuat gunung ini sedikit sukar untuk didaki, khsusnya pada musim hujan. Apalagi kalau yang mendaki itu wanita ataupun pendaki yang amatiran serta tubuh yang tidak produktif.

Bersama kawan pendaki gunung dari Medan

Awal mula saya dengan 5 orang teman saya yang lainnya yaitu Banjirul, Imam, Nuh Aulia, Hamdan dan Sukrial. Kami berlima laki-laki dan satu orang perempuan yaitu Nuh Aulia itu, mungkin dia lah pendaki yang paling cantik pada saat itu karena memang tidak ada lagi pendaki wanita selain tim kami sewaktu mendaki, tapi bagi saya biasa saja dia sih, hahahha.

Kami berangkat dari Medan menggunakan angkot yang kami berhentikan pertama kali di Jalan Letda Soedjono yaitu angkot 35 dan kamipun turun lagi disimpang aksara karena angkot 35 tidaklah searah dengan tujuan kami. Kemudian kami melanjutkan lagi naik angkot 131 sampai ke simpang pos, Padang Bulan.

Simpang pos ini emang awal dari segala pendakian di Sumatera Utara bsgi pendaki ysng nsik kendaraan umum. Angkot 131 tadi kami bayar ongkos perorangnya Rp 6000 Rupiah. Lanjutlah kami naik mini bus yaitu bus sutra.

Kami naik bus sutra tidaklah langsung sampai ke lokasi tujuan dengan sekali transportasi. Bus sutra hanya mengantarkan kami sampai ke Terminal Kabanjahe saja dengan ongkos Rp 15000 Rupiah perorang. Kemudian dari Terminal Kabanjahe kami pun naik mini bus ke Sidikalang, Kabupaten Dairi dengan ongkos Rp 10.000 Rupiah per orang. Perjalanan kami dari Medan kurang lebih 3 jam.

Setelah sampang di Simpang Sidikalang kamipun memutuskan mencarirumah makan disekitar situ dengan berjalan kaki menyusuri daerah tersebut dahulu. Disitu terdapat 2 rumah makan yang katanya musim.

Kamipun mendatangi rumah makan pertama, tetapi kami ragu dengan suasananya karena tidak seperti rumah makan muslim pada umumnya. Selanjutnya kami memutuskan untuk pindah dengan menghampiri rumah makan yang satunya dan akhirnya kami makan disitu dengan membayar Rp 20.000 Rupiah per orang.

Setelah mengisi perut dan beristirahat sejenak kamipun memutuskan melanjutkan perjalann menuju desa nagalingga.

Awalnya kami tidak langsung sampai kedesa tersebut, tetapi kami awalnya mencari tumpangan-tumpangan sama pengendara pick up, tapi tak ada satupun ari mereka yang bersedia mengantarkan kami.

Setelah sekitar setengah jam kami menunggu di SPBU setempat, akhirnya ada angkot setempat yang bersedia mengantarkan kami kedepan titik awal pendakian yaitu “Pos Registrasi” dan angkot tadi kami membayar perorang sekitar Rp 10.000 Rupiah. Karena memang supirnya enggak mau minta kurang bayarnya.

Sambutan warga di Desa Nagalingga via Pancur Batu itupun terbilang hangat dengan berbagai kearifan lokal didalamnya tanpa ada basa basi menyambut kami dengan senyuman
Setelah sampai di pos registrasi kami disuruh mengeluarkan semua barang bawaan kami oleh petugas untuk memastikan dan mendata apa saja yang kami bawa.

Setelah dari situ kami memutuskan untuk bermalam di shelter 1 yang jaraknya kurang lebih 1 km dari pos yang memang di khususkan untuk beristirahatnya para pendaki. Dengan mendirikan tenda kamipun beristirahat sampai pagi.

Dipagi hari kami bergegas sekitar jam 9 pagi, setelah sebelumnya sarapan dengan perbekalan logistik yang kami bawa dan merapihkan kembali barang bawaan kami serta berdoa sebelum pendakian agar tidak adanya msalah-masalah saat perjalanan.

Kamipun akhirnya mendaki dengan penuh semangat, pada saat itu tidak ada pendaki lain yang ingin kepuncak dan hanya kami ber 6 lah yang mendaki. Ada 5 shelter yang harus kami lalui sebelum akhirnya sampai kepuncak gunung.

Pada saat itupun cuaca kurang mendukung perjalanan kami hingga akhirnya tiba di shelter 43 hujan turun mengguyur kami dan membuat track menjadi semakin licin. Untungnya dengan persiapan yang matang kami membawa mantel dan tetap melanjutkan perjalanan.

Apabila ditanya seputar ramahnya destinasi ini untuk keluarga, saya rasa kurang cocok karena seperti yang saya sudak katakan sebelumnya bahwasannya daerah ini bisa dikatakan ekstrim dan licin serta dikelilingi hutan rimba dan juga jurang di sisi- sisinya.

Apalagi untuk orang tua dan balita, yang namanya gunung ataupun destinasi alam liar pastinya sulit untuk menemukan tempat ibadah khususnya masjid, kami saya ketika itu sholatnya hanya sewaktu istirahat saja di tenda yang telah kami bangun sebelumnya.

Setelah tidak lama juga hujan mengguyur, kamipun memutuskan untuk membuka mantel untuk memudahkan gerak kami. Perlu diingat bahwa kami tidaklah terus-terusan mendaki dan kamipun tergolong banyak beristirahat mengingat kamipun baru pertama kali ke Gunung Sibuatan ini.

Setelah hampir 9 jam kami mendaki, tibalah kami dipuncak gunung yaitu sekitar jam 6 sore, bisa dikatakan sudah menjelang maghrib juga.

Berfoto di puncak gunung Sibuatan

Kamipun langsung mendirikan tenda dan berbenah diri serta beristirahat setelah sekian lamanya pendakian.

Dipagi hari kamipun melihat indahnya pemandangan Danau toba dari puncak gunung tetapi hanya beberapa saat karena kabut cepat menyelimuti daerah itu dan kamipun tak sempat mengabadikan momen ketika cuaca baik. 

Kamipun turun sekitar jam 10 pagi dan sampai ke kaki gunung sekitar jam 7 malam dan langsung naik becak setempat dengan membayar Rp 20.000 Rupiah perorang. Sampai kesimpang gundaling dan kami pun lanjut lagi naik bus sampai ke simpang pos lagi sekitar jam 10 malam dengan membayar Rp 15.000 Rupiah perorang.

Akhirnya kami pun sampai kerumah masing masing sekitar jam 11 malam dan langsung beristirahat. Cukup sekian cerita liburan saya semoga bisa menjadi tambahan ilmu untuk pembaca dan menarik untuk di simak.

Sekian cerita singkat ini tentang Pengalaman Mendaki Gunung Sibuatan Via Pancur Batu semoga bermanfaat ya…
Salam mozafir..shared by Fajar S.

Written by 

Assalamualaikum...Anda memiliki info wisata daerah, cafe, restoran, hotel, penginapan, dll yang ingin di kenalkan pada dunia, boleh share kepada kami untuk di publikasikan. Mozafir managed by travel blogger (halal traveller).

Leave a Reply

Your email address will not be published.